KEKASIH HALALKU
Oleh
Yanie Al Adawiyah
Senyum
yang di awali dengan hadirnya metari pagi menyambut sebuah ketentraman dalam
hati, indahnya sang pencerah mulai bermuara bersama kata mutiara penyejuk jiwa.
Hati yang cerah penuh semangat pagi membuat hidup lebih indah dengan penuh berkah.
Tapi hidup ini tidak sempurna jika belum ada pendamping hidup yang mampu
meluruskan jalanku.dan yang ku cari adalah wanita sholikhah, wanita penyejuk
jiwa sebagai perhiasan dunia.
Namanya
Nadia. Dia mengajar ngaji TPA di Musholah dekat dengan rumahku. Namaku Furqon, Aku
mengenalnya ketika aku mengantarkan keponakanku untuk ikut mengaji bersama
teman-temannya di Mushola. Sungguh anggun dan lembut, wajahnya berseri-seri dan
selalu tersenyum manis kepada orang-orang disekitarnya. Aku pun mulai tertarik
padanya. Setiap sholat maghrib selalu ku sempatkan diriku untuk jama’ah di
musholah, tak lupa dengan tujuan utamaku untuk mencari ridho Allah dengan
sholat berjama’ah, dan mugkin saja ada kesempatan buat aku mengenal Nadia kebih
dekat.
Suatu
hari ada khataman Al-Quran di musholah, kebetulan aku juga termasuk anggota
yang selalu menghadiri bila ada acara-acara di musholah. Ustadh Hanif selaku
Pembina Mushola sekaligus sebagai Imam jama’ah mengundang Nadia ikut serta
dalam khataman Al-Qur’an. Sudah lumayan cukup yang datang untuk mengikuti
khataman, Ustadh Hanif menyuruhku untuk mengawali membaca ayat-ayat Al-Qur’an
tersebut, ada yang menyimak dan ada yang ikut serta untuk membaca. Tak konsen
untuk membaca ketika yang menyimakku adalah Nadia. Hatiku terasa berdegup
sangat kencang, rasanya aku ingin berlari tapi ku tak bisa. Sedikit nadia
membetulkan beberapa kalimat yang ku baca, akupun merasa damai nan indah ketika
aku memdengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang keluar dari nada sang pencerah hati. Subhanallah…sungguh indah
ciptaanmu ya Allah.
Kadang
aku punya pikiran untuk memilikinya, sungguh keajaiban bila aku memilii wanita
sepeprtimu Nadia. Kau sungguh indah walaupun belum ku dengar satu kata darimu
tapi ku lihat ketika kau berbicara dengan orang-orang sekitar kau sangat sopan
dan menawan, tapi apakah hatiku tidak bertepuk sebelah tangan, aku hanyalah
pekerja pabrik biasa yang sehari-hari juga bisa menerima servis elektronik
rusak dengan penghasilan yang cukup, aku juga tidak berpenglaman berteman
dengan wanita. Banyak orang disini yang membicarakan tentang keindahanmu. Ibuku
juga sering membicarakannmu, mungkinkah bahwa ibu akan memilihmu sebagai calaon
menantunya? Lamunanku terhenti ketika Ustadh Hanif memanggilku.
“Furqon, sini nak? Berikan
bungkusan ini pada Nadia, biar di bawah pulang.”
“Iya ustadz, saya juga mau
pamit pulang. Assalamu’alaikum!” ku cium tangan ustadh Hanif dan aku pun
kembali untuk mencari Nadia yang ternyata nadia masih ada di dalam musholah
untuk merapikan beberapa kitab Al-Qur’an.
“Assalamu’alaikum Nadia.”
Salamku menyapa.
“Wa’alaikum salam.”jawab
Nadia.
“Nama saya Furqon. Ini ada
bungkusan dari Ustadh Hanif.” Ucapku sambil memberikan bungkusan kepada Nadia.
“Terima kasih mas Furqon.”
Senyum Nadia menerima bungkusan dari tanganku.
“Apa bisa saya bantu Nadia?”
Tanyaku lembut
“Oh.. tidak usah Mas, nih
juga udah selesai.” Senyum nadia menyambutku lagi. Sungguh manis, mungkinkah
aku bisa mendapatkan hatimu Nadia, ucapku dalam hati. aku memberanikan diri
untuk bertanya-tanya kepada Nadia, siapa dia sebenarnya dan dari mana asalnya?
Kenapa dia bisa berada disini dan apa yang dia lakukan di kota ini?
Alhamdulillah
hari ini aku cuti kerja, ku sempatkan tubuhku berbaring di kamar tidurku. Ku
bayangkan indahnya sosok perempuan seperti bidadari surga yang mampu meluluhkan
hatiku. Semenjak hataman aku mendapatkan nomer telfon Nadia, aku pun sering
menghubunginya. Ternyata Nadia nge-kos di daerah sini di Wonocolo gang 7 yang
kebetulan tidak jauh dari rumahku. Kadang ku sempatkan diriku untuk mengunjunginya
dan ku bawakan makanan kesukaannya, yaitu Nasi Goreng. Tempat tinggal aslinya
di Gresik, dan disini dia kuliah mengambil jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran
Islam). Nadia mengambil kosentrasi di Retorika, mungkin di ingin menjadi Da’i.
tidak salah lagi kalau aku menginginkannya, karna memang itu yang ku mau dari
seorang perempuan. Tapi apakah dia mau denganku? Bagaimana caranya aku
mengungkapkan perasaan ini padanya? Kata-kata itu sering berputar dalam otakku.
Ibu pun sampai mengatahui kebingunganku yang selalu mondar-mandir tak jelas di
rumah.
“Kau kenapa nak?”
“Aku menginginkannya bu, tapi
aku tak tau bagaimana aku mengungkapkan ini padanya, aku juga tidak yakin kalau
dia bisa menerima aku yang seperti ini. Aku berbeda jauh dengan dia, dia
terlalu cantik untukku.” Ucapku ketika aku berbaring di pangkuan ibu.
“Berdo’a kepada Allah nak!
Insya Allah, Allah mengabulkan pemintaanmu. Lagipula umurmu sudah cukup untuk
mempunyai pendamping hidup. Ibu selellu mendukungmu nak!” ucap ibuku ramah
dengan membelai rambutku. Aku semakin percaya, Allah pasti mengabulkan
permintaanku. Niatku juga baik untuk mencari seorang pendamping hidup.
Cukup
lama aku menunggumu Nadia, semoga belum ada laki-laki yang mengisi hatimu.
Malam ini aku harus bisa mendapatkan Nadia, bagaimanapun caranya. ku hubungi
Nadia dan ku beritahu kalau ingin mengajaknya keluar. Alhamdulillah do’aku
terkabul, dia mau keluar bersamaku. Sudah beberapa kali aku mengajaknya keluar,
tapi beberapa alasan terucap menolak ajakanku. Mungkin dia sibuk, lagi pula
sebentar lagi dia juga menyelesaikan ujian skripsi. Sabar ku menunggu hingga
sekarang ini aku bisa membujukmu keluar denganku.
Malam
itu jantungku berdetak sangat cepat, binggung apa yang harus ku ucapkan.
Sedangkan Nadia hanya tersenyum manis melihatku, ku tak pernah melihat wajah
yang begitu indah seperti ini. Selalu tersenyum, tak pernah menampakkan rasa
kesal dan marah. Setiap ku melihatnya dia selalu tersenyum dan berbicara sangat
lembut. Matanya indah, sopan, dengan kerudung putih yang menampakkan wajah
bersih bercahaya, Subhanallah sungguh indah ciptaanmu ya Allah.
“Kenapa Mas Furqon diam saja,
apa yang ingin Mas bicarakan dengan Nadia?” suara Nadia mengagetkan lamunanku
“Oh…aku terpesona melihatmu
Nadia, sungguh indah ciptaan Allah.”
“Mas bisa saja, masih banyak
yang lebih dari Nadia Mas!”
“Memang masih banyak, dan
kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi ntah apa yang ada di hatiku ini, setiap
hari tak lelah hatiku untuk memikirkanmu Nadia.”
“Kenapa mas memikirkannku,
bukankah masih banyak yang mas pikirkan. Misalnya tentang pekerjaan mas yang
setiap hari tak ada hentinnya.”
“Kau begitu sempurna dimataku
Nadia, sudah sering ku ucapakan ketika kita chattingan, waktu telfonan,
senyummu tiada akhir di mataku, kecantikan hatimu membuatku luluh dan aku mengharapkan
pendamping hidup sepertimu. Apa kau mau jadi kekasihku? Maaf kalau aku
lancang.” Bergetar hatiku tak beraturan. Sedangkan Nadia hanya tersenyum
mendengar ucapanku. Ya Allah aku ingin dia mengerti tentang hatiku, apa yang
harus akau lakukan setelah ini.
“Sudah terlalu sering aku
mendapatkan pujian itu dari orang-orang mas, dan tak ada yang bisa meyakinkan
hatiku. tapi ntah kenapa semenjak aku bertemu dengannmu aku juga mempunyai
rasa, terkadang aku berdo’a apakah ini takdirku atau bukan, sebenarnya aku juga
menunggu ucapan ini darimu, tapi maaf aku tidak bisa menjadi kekasihmu mas.”
Deg…Deg…Deg, luntur seketika
hatiku. Tapi Nadia mulai menyahut lagi.
“Mas, aku tidak bisa jadi
kekasihmu, tapi aku ingin kau jadikan aku kekasih halalmu.”
“Apa kau yakin menjadi
kekasih halalku?” ucapku seketika memegang tangannya.
“Insya Allah aku yakin dengan
setulus hatiku Mas.” Nadia membalas sentuhan tanganku. Alhamdulillah ya Allah,
engkau memang maha pemurah dan penyayang. Bahagia sedang menyelimutiku malam di
malam ini. Akhirnya aku menemukan pendamping hidup yang akan menjadi kekasih
halalku.
Seperti
yang sudah ku janjikan kepada nadia sebelumnya. Bahwa aku akan melamarnya
sebelum Nadia wisudah. Alhamdulillah dia bisa menerima keadaanku yang seperti
ini. Dia memang orang yang sangat sabar, Nadia selalu bilang kepadaku “Allah
itu ada dan Allah selalu ada setiap saat kita membutuhkannya.” Tidak salah lagi
kalau aku memilih wanita sepertimu Nadia. Masing-masing orang tua juga
menyutujui apa yang aku dan Nadia rencanakan. Dan akan menikah setelah wisudah
nanti. Bukan sebuah kebetulan aku memiliki wanita sepertimu Nadia, tapi kau
memang layak untuk ku miliki. Kau begitu indah di mataku dan aku bersyukur atas
semua itu. Aku berjanji kan membuatmu bahagia kelak, dan aku akan menjadikanmu
sebagai istri yang sholehah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar