Senin, 06 Januari 2014

Kekasih Halalku



KEKASIH HALALKU

Oleh
Yanie Al Adawiyah 

Senyum yang di awali dengan hadirnya metari pagi menyambut sebuah ketentraman dalam hati, indahnya sang pencerah mulai bermuara bersama kata mutiara penyejuk jiwa. Hati yang cerah penuh semangat pagi membuat hidup lebih indah dengan penuh berkah. Tapi hidup ini tidak sempurna jika belum ada pendamping hidup yang mampu meluruskan jalanku.dan yang ku cari adalah wanita sholikhah, wanita penyejuk jiwa sebagai perhiasan dunia.
Namanya Nadia. Dia mengajar ngaji TPA di Musholah dekat dengan rumahku. Namaku Furqon, Aku mengenalnya ketika aku mengantarkan keponakanku untuk ikut mengaji bersama teman-temannya di Mushola. Sungguh anggun dan lembut, wajahnya berseri-seri dan selalu tersenyum manis kepada orang-orang disekitarnya. Aku pun mulai tertarik padanya. Setiap sholat maghrib selalu ku sempatkan diriku untuk jama’ah di musholah, tak lupa dengan tujuan utamaku untuk mencari ridho Allah dengan sholat berjama’ah, dan mugkin saja ada kesempatan buat aku mengenal Nadia kebih dekat.
Suatu hari ada khataman Al-Quran di musholah, kebetulan aku juga termasuk anggota yang selalu menghadiri bila ada acara-acara di musholah. Ustadh Hanif selaku Pembina Mushola sekaligus sebagai Imam jama’ah mengundang Nadia ikut serta dalam khataman Al-Qur’an. Sudah lumayan cukup yang datang untuk mengikuti khataman, Ustadh Hanif menyuruhku untuk mengawali membaca ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, ada yang menyimak dan ada yang ikut serta untuk membaca. Tak konsen untuk membaca ketika yang menyimakku adalah Nadia. Hatiku terasa berdegup sangat kencang, rasanya aku ingin berlari tapi ku tak bisa. Sedikit nadia membetulkan beberapa kalimat yang ku baca, akupun merasa damai nan indah ketika aku memdengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang keluar dari nada  sang pencerah hati. Subhanallah…sungguh indah ciptaanmu ya Allah.
Kadang aku punya pikiran untuk memilikinya, sungguh keajaiban bila aku memilii wanita sepeprtimu Nadia. Kau sungguh indah walaupun belum ku dengar satu kata darimu tapi ku lihat ketika kau berbicara dengan orang-orang sekitar kau sangat sopan dan menawan, tapi apakah hatiku tidak bertepuk sebelah tangan, aku hanyalah pekerja pabrik biasa yang sehari-hari juga bisa menerima servis elektronik rusak dengan penghasilan yang cukup, aku juga tidak berpenglaman berteman dengan wanita. Banyak orang disini yang membicarakan tentang keindahanmu. Ibuku juga sering membicarakannmu, mungkinkah bahwa ibu akan memilihmu sebagai calaon menantunya? Lamunanku terhenti ketika Ustadh Hanif memanggilku.
“Furqon, sini nak? Berikan bungkusan ini pada Nadia, biar di bawah pulang.”
“Iya ustadz, saya juga mau pamit pulang. Assalamu’alaikum!” ku cium tangan ustadh Hanif dan aku pun kembali untuk mencari Nadia yang ternyata nadia masih ada di dalam musholah untuk merapikan beberapa kitab Al-Qur’an.
“Assalamu’alaikum Nadia.” Salamku menyapa.
“Wa’alaikum salam.”jawab Nadia.
“Nama saya Furqon. Ini ada bungkusan dari Ustadh Hanif.” Ucapku sambil memberikan bungkusan kepada Nadia.
“Terima kasih mas Furqon.” Senyum Nadia menerima bungkusan dari tanganku.
“Apa bisa saya bantu Nadia?” Tanyaku lembut
“Oh.. tidak usah Mas, nih juga udah selesai.” Senyum nadia menyambutku lagi. Sungguh manis, mungkinkah aku bisa mendapatkan hatimu Nadia, ucapku dalam hati. aku memberanikan diri untuk bertanya-tanya kepada Nadia, siapa dia sebenarnya dan dari mana asalnya? Kenapa dia bisa berada disini dan apa yang dia lakukan di kota ini?
Alhamdulillah hari ini aku cuti kerja, ku sempatkan tubuhku berbaring di kamar tidurku. Ku bayangkan indahnya sosok perempuan seperti bidadari surga yang mampu meluluhkan hatiku. Semenjak hataman aku mendapatkan nomer telfon Nadia, aku pun sering menghubunginya. Ternyata Nadia nge-kos di daerah sini di Wonocolo gang 7 yang kebetulan tidak jauh dari rumahku. Kadang ku sempatkan diriku untuk mengunjunginya dan ku bawakan makanan kesukaannya, yaitu Nasi Goreng. Tempat tinggal aslinya di Gresik, dan disini dia kuliah mengambil jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam). Nadia mengambil kosentrasi di Retorika, mungkin di ingin menjadi Da’i. tidak salah lagi kalau aku menginginkannya, karna memang itu yang ku mau dari seorang perempuan. Tapi apakah dia mau denganku? Bagaimana caranya aku mengungkapkan perasaan ini padanya? Kata-kata itu sering berputar dalam otakku. Ibu pun sampai mengatahui kebingunganku yang selalu mondar-mandir tak jelas di rumah.
“Kau kenapa nak?”
“Aku menginginkannya bu, tapi aku tak tau bagaimana aku mengungkapkan ini padanya, aku juga tidak yakin kalau dia bisa menerima aku yang seperti ini. Aku berbeda jauh dengan dia, dia terlalu cantik untukku.” Ucapku ketika aku berbaring di pangkuan ibu.
“Berdo’a kepada Allah nak! Insya Allah, Allah mengabulkan pemintaanmu. Lagipula umurmu sudah cukup untuk mempunyai pendamping hidup. Ibu selellu mendukungmu nak!” ucap ibuku ramah dengan membelai rambutku. Aku semakin percaya, Allah pasti mengabulkan permintaanku. Niatku juga baik untuk mencari seorang pendamping hidup.
Cukup lama aku menunggumu Nadia, semoga belum ada laki-laki yang mengisi hatimu. Malam ini aku harus bisa mendapatkan Nadia, bagaimanapun caranya. ku hubungi Nadia dan ku beritahu kalau ingin mengajaknya keluar. Alhamdulillah do’aku terkabul, dia mau keluar bersamaku. Sudah beberapa kali aku mengajaknya keluar, tapi beberapa alasan terucap menolak ajakanku. Mungkin dia sibuk, lagi pula sebentar lagi dia juga menyelesaikan ujian skripsi. Sabar ku menunggu hingga sekarang ini aku bisa membujukmu keluar denganku.
Malam itu jantungku berdetak sangat cepat, binggung apa yang harus ku ucapkan. Sedangkan Nadia hanya tersenyum manis melihatku, ku tak pernah melihat wajah yang begitu indah seperti ini. Selalu tersenyum, tak pernah menampakkan rasa kesal dan marah. Setiap ku melihatnya dia selalu tersenyum dan berbicara sangat lembut. Matanya indah, sopan, dengan kerudung putih yang menampakkan wajah bersih bercahaya, Subhanallah sungguh indah ciptaanmu ya Allah.
“Kenapa Mas Furqon diam saja, apa yang ingin Mas bicarakan dengan Nadia?” suara Nadia mengagetkan lamunanku
“Oh…aku terpesona melihatmu Nadia, sungguh indah ciptaan Allah.”
“Mas bisa saja, masih banyak yang lebih dari Nadia Mas!”
“Memang masih banyak, dan kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi ntah apa yang ada di hatiku ini, setiap hari tak lelah hatiku untuk memikirkanmu Nadia.”
“Kenapa mas memikirkannku, bukankah masih banyak yang mas pikirkan. Misalnya tentang pekerjaan mas yang setiap hari tak ada hentinnya.”
“Kau begitu sempurna dimataku Nadia, sudah sering ku ucapakan ketika kita chattingan, waktu telfonan, senyummu tiada akhir di mataku, kecantikan hatimu membuatku luluh dan aku mengharapkan pendamping hidup sepertimu. Apa kau mau jadi kekasihku? Maaf kalau aku lancang.” Bergetar hatiku tak beraturan. Sedangkan Nadia hanya tersenyum mendengar ucapanku. Ya Allah aku ingin dia mengerti tentang hatiku, apa yang harus akau lakukan setelah ini.
“Sudah terlalu sering aku mendapatkan pujian itu dari orang-orang mas, dan tak ada yang bisa meyakinkan hatiku. tapi ntah kenapa semenjak aku bertemu dengannmu aku juga mempunyai rasa, terkadang aku berdo’a apakah ini takdirku atau bukan, sebenarnya aku juga menunggu ucapan ini darimu, tapi maaf aku tidak bisa menjadi kekasihmu mas.”
Deg…Deg…Deg, luntur seketika hatiku. Tapi Nadia mulai menyahut lagi.
“Mas, aku tidak bisa jadi kekasihmu, tapi aku ingin kau jadikan aku kekasih halalmu.”
“Apa kau yakin menjadi kekasih halalku?” ucapku seketika memegang tangannya.
“Insya Allah aku yakin dengan setulus hatiku Mas.” Nadia membalas sentuhan tanganku. Alhamdulillah ya Allah, engkau memang maha pemurah dan penyayang. Bahagia sedang menyelimutiku malam di malam ini. Akhirnya aku menemukan pendamping hidup yang akan menjadi kekasih halalku.
Seperti yang sudah ku janjikan kepada nadia sebelumnya. Bahwa aku akan melamarnya sebelum Nadia wisudah. Alhamdulillah dia bisa menerima keadaanku yang seperti ini. Dia memang orang yang sangat sabar, Nadia selalu bilang kepadaku “Allah itu ada dan Allah selalu ada setiap saat kita membutuhkannya.” Tidak salah lagi kalau aku memilih wanita sepertimu Nadia. Masing-masing orang tua juga menyutujui apa yang aku dan Nadia rencanakan. Dan akan menikah setelah wisudah nanti. Bukan sebuah kebetulan aku memiliki wanita sepertimu Nadia, tapi kau memang layak untuk ku miliki. Kau begitu indah di mataku dan aku bersyukur atas semua itu. Aku berjanji kan membuatmu bahagia kelak, dan aku akan menjadikanmu sebagai istri yang sholehah.
                                                                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar