Keajaiban sedekah di balik Surat Al An’am Ayat 160
Wajahnya selalu tampak ceria, tak pernah terlihat perasaan sedih. Senyum yang ramah dengan hari-hari yang di jalani dengan penuh semangat. Tak pernah dia mengeuh dan berputus asa. Selalu mengerjakan pekerjaan yang sungguh-sungguh, meskipun hanya sebagai penjual nasi yang tak seberapa penghasilannya.
Sosok pak Udin yang terkenal dengan ramahnya, yang selalu menerima apa adanya dan berapa hasil yang di peroleh dari menjual nasi bersama istrinya ibu Aminah di gang Benteng Jemursari Surabaya. Terlalu sedikit bila di bandingkan dengan harga kontrakan per bulan 1.500.000. Tapi sosok pak udin tidak pernah mengeluh akan hal itu. Dia selalu menerima berapa rizki yang sudah di berikan oleh Allah untk keluarganya.
Suatu malam bu Aminah bilang sama pak Udin kalau sebentar lagi mereka akan membayar tagihan uang kontrakan yang akan di bayar 2 minggu lagi, sedangkan saat ini mereka hanya mempunyai uang 1.000.000. Itupun belum untuk di buat makan sehari-hari dan kebutuhan untuk berdagang. Tapi pak Udin tidak mempermasalahkan akan hal itu. Dia ingat sautu surat Al quran yang di dengar saat mengikuti pengajian malam jum’at kemarin. Yakni surat Al An,am yang berbunyi : “Sesiapa yang membawa amal kebaikan (pada hari kiamat), maka baginya (balasan) sepuluh kali ganda (dari kebaikan) yang sama dengannya dan sesiapa yang membawa amal kejahatan, maka ia tidak dibalas melainkan (kejahatan) yang sama dengannya; sedang mereka tidak dianiaya (sedikitpun).”
“Bu, kita kan mempunyai uang 1 juta, bagaimana kalau uang itu kita sumbangkan saja ke masjid dan orang-orang yang membutuhkan. Ibu ingat dengan kebesaran Allah yang terdapat pada surat Al An,am yang di ucapkan ustad Mahmud pada pengajian malam jum’at kemarin, bahwa “Sesiapa yang membawa amal kebaikan (pada hari kiamat), maka baginya (balasan) sepuluh kali ganda (dari kebaikan) yang sama dengannya dan sesiapa yang membawa amal kejahatan, maka ia tidak dibalas melainkan (kejahatan) yang sama dengannya; sedang mereka tidak dianiaya (sedikitpun).” ujar pak Udin meyakinkan istrinya.
Bu Aminah sama sekali tidak mempercayai akan hal itu, mustahil katanya. Tapi sebagai seorang istri yang wajib untuk menuruti suami. Maka bu Aminah akhirnya menyerahkan semua kepada sang suami. Pak Udin sangat yakin akan kebesaran Allah yang tidak pernah mustahil di dunia ini. Akhirnya merekapun bershodaqoh untuk masjid juga untuk orang-orang yang membutuhkan.
Dengan berjaannya waktu pak Udin masih menunggu di depan rumah akan adanya sebuah keajaiban tentang kebesaran Allah. Bu Aminah putus asa dengan ucapan suaminya yang tak kunjung hasil. Akhrnya bu aminah mengjak kerumah orang tuanya untuk pinjam uang. Tapi pak udin tidak menyetujui dengan ajakan istrinya.dia msih tetap menunggu akan kebesaran Allah. Lagi pula itu akan memberatkan orang tuanya karna orang tuanya hanya bekerja sebagai supir. Dan itu tidak akan mencukupi kebutuhannya. Sampai detik terakhir, akhirnya pemilik kontrakan datang untuk meminta tagihan uang kontrakannya. Keluarga pak Udin sangat sedih akan musibah yang di deritanya. Tapi pak Udin selalu memberi motivasi keluarganya agar tetap sabar. Uang itu pasti akan kembali dengan berlipat ganda.
Ketika sudah di usir dari kontrakan pak udin beserta keluarganya mencari tempat tinggal yang baru. Pak Udin menemui pemilik rumah tersebut. “Berapa harga rumah yang bapak jual ini?” Tanya pak udin pada pemiik rumah.
“Rumah ini seharga 700 juta dengan DP 500 juta.” Ucap pemilik rumah
“2 bulan lagi saya akan membeli rumah ini.” Ucap Pak Udin tegas.
“Tapi bapak harus DP dulu 500 juta, kalu tidak rumah ini akan saya berikan kepada orang lain yang mau membeli.”
“Saya sekarang belum punya uang pak, tapi 2 bulan lagi saya akan bayar langsung dengan uang kas.” Tegas pak Udin lagi.
Tapi pemilik rumah sama sekali tidak menanggapi apa yang yang di ucapkan pak Udin, mustahil kalau sekarng tidak punya uang sama sekali, tetapi dengan 2 bulan kedepan bisa membayar rumah dengan harga yang lumayan tinggi. Akhrinya keluarga pak Udin melanjutkan perjalanan sampai ke pasar porong, dekat tempat pengungsian korban lumpur lapindo.
Pak udin dan istrinya kembali membuka warung nasi dengan uang yang secukupnya. Tiba-tiba ada Timsar yang meminta mereka untuk membuatkan nasi bungkus sebanyak 16 ribu bungkus 3x sehari dengan pembayaran di muka. Secara tegas tanpa berfikir panjang pak Udin menjawab dengan jawaban “iya”.
Tidak ada kesulitan yang di rasakan pak Udin dan Bu Aminah selama menjalankan tugas itu. Pas 2 bulan uang hasil membuatkan bungkusan nasi untuk di berikan kepada para bencana lumpur lapindo mereka mndapatkan uang sampai 1 milyar.
Subhanallah, inilah suatu kebesaran
Allah. Rasulullah
SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan
permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah
ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah
jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”
Berbicara mengenai
balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan,
sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan
berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar