Senin, 06 Januari 2014

Mahasiswa UIN Sulap TPA Menjadi Sebuah Pesantren



Mahasiswa UIN Sulap TPA Menjadi Sebuah Pesantren

Sebut saja namanya Sahab, dia adalah Ustadz yang mengajar TPA di Musholah Nurul Iman Gang Benteng Jemur Sari Wonocolo Surabaya. Tempat tinggal asal Kabupaten Tuban, Dia adalah alumni mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2013, Fakultas Syari’ah Jurusan AS (Ahwalus Syahsyiyah). Harapannya dia akan merubah TPA di Musholah Nurul Iman itu menjadi sebuah pesantren. Sebuah niat yang sungguh-sungguh dalam menegakkan dan meluruskan jalan yang terbaik yang akan dicapainya.
Masa-masa yang berganti dari Ustadz satu ke Ustadz lainnya memberikan peluang bagi Ustadz Sahab untuk mengajar TPA tersebut. Semua itu berawal dari teman dekat yang mengajaknya untuk ikut membantu mengajar TPA di Musholah itu. Kebetulan masyarakat Gang Benteng juga memerlukan seseorang untuk menjaga Musholah dan setiap hari membersihkannya dengan gaji Rp 300 ribu per bulan. Lowongan itu diambil oleh Ustadz Sahab yang kemudian tinggal di Musholah yang sudah disediakan warga yakni dilantai atas sebagai tempat tinggalnya di Surabaya semasa kuliah. Saat itu ustadz sahab masih berstatus kuliah di IAIN Sunan Ampel semester 1 Tahun 2008.
Dari waktu ke waktu tanpa adanya teman yang menemani mengajar TPA, dikarenakan teman yang mengajaknya berhalangan dan pindah ke kampung halamannya, akhirnya di Tahun 2013 ini dia mencari seseorang untuk membantunya mengajar TPA. Ustadz yang dicari Ustadz Sahab itu adalah mahasiswa IAIN jurusan AS Fakultas Syari’ah semester 3. Yakni Saiful Arif yang biasa di sapa dengan ustadz Arif dan Imam Mahdi. Ustadz Sahab juga mengajaknya untuk tinggal bersamanya di kamar lantai atas musholah tersebut.
Rutinitas anak-anak yang dahulunya mengaji setelah sholat ashar berubah menjadi setelah sholat maghrib. Mereka menganggap bahwa mengaji setelah sholat ashar itu kurang efektif,  jika setelah sholat maghrib banyak anak-anak yang berkeliaran untuk bermain dan meninggalkan buku-buku pelajaran di rumah yang harusnya dipelajari untuk sekolah besok. Maka dari itu mereka bersosialisasi kepada masing-masing orang tua supaya anak-anak tidak meninggalkan musholah setelah mengaji. Seperti yang dituturkan Ustadz Sahab “Bagaimana agar anak-anak itu mau mengaji, pertama kita mengkoordinir dengan cara membujuk masing-masing orang tua dari murid-murid tersebut untuk mendorong atau menyuruh anaknya untuk tetap tinggal di mushollah dan mengikuti rutinitas yang ada. Kedua dari anaknya dikasih siraman agama atau motivasi agar selalu tertarik untuk pergi ke musholah.”
Setahun ini metode pembelajaran semakin ditingkatkan oleh ketiga Ustadz tersebut. Yang tadinya sistem pembalajarannya hanya membaca buku Iqro’ atau turutan, sekarang sistemnya bertambah dengan hafalan-hafalan. Kalau yang masih dini membaca buku Iqro’ dengan tambahan menghafal do’a sehari-hari dan juga hafalan surat pendek, sedangkan yang sudah membaca Al-quran mendapat tambahan dengan mempelajari hukum-hukum tajwid dan juga belajar tentang akhlak. Dalam menarik minat anak-anak Ustadz mencoba untuk memberikan simpati kepada mereka dengan cara hipnonis, istilah hipnotis dalam masalah pendidikan, terkait tidak boleh membantah orang tua, untuk selalu menjaga akhlak, dan juga memberikan sebuah motivasi agar anak-anak tersebut tidak melangkah ke dalam suatu kenakalan yang seharusnya tidak di ajarkan pada anak-anak usia dini.
Dalam setahun ini mereka juga menambah jadwal ngaji yakni setelah sholat shubuh dan setelah sholat maghrib. 55 murid yang diajarnya tidak selalu aktif, tapi ada juga anak-anak yang aktif yang selalu mengikuti sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Jadwal Mengaji TPA di laksanakan setian hari setelah sholat subuh dan sholat dhuhur, kecuali malam Jumat.  “Kalau habis shubuh anak-anak tidak seberapa aktif, mungkin karena keadaan yang masih nagntuk dan malas untuk bangun. Kecuali malam minggu, biasanya kalau malam minggu anak-anak  tidur di mushollah semuanya. Kalau hari-hari biasa yang aktif Cuma 4 anak, kalau yang ngaji shubuh 6 anak. Ngajinya habis shubuh dan habis manghrib setiap hari kecuali malam jumat. Kalau malam minggu muridnya banyak, sekitar 25 anak.” Kata Ustadz Sahab saat di wawancarai setelah mengikuti sholat ashar berjama’ah di Musholah Nurul Iman (15/12/13).
Hari minggu adalah hari dimana anak-anak mempunyai banyak waktu untuk bersenang-senang. Dalam kesenangan itulah ketiga Ustadz itu memanfaatkan hari minggu sebagai hari bermain untuk anak-anak. Setelah ngaji sehabis sholat shubuh ketiga ustadz itu mengajak anak- anak untuk olah raga, bernyanyi, main tebak-tebakan dan latihan pencak silat.
“Mulai Bulan Ramadhan kemarin kami mengadakan sistem pondok Ramadhan mulai pagi sampai sore anak-anak berada di Musholah dan setelah tarawih tadarus bersama.” Tutur Ustadz Sahab.
“Saya salut dengan system pengajaran yang mendidik anak-anak semakin rajin untuk belajar di Musholah ini. Waktu Bulan Ramadhan kemarin saya sempat mendengar tangisan anak tetangga saya sewaktu sholat shubuh tidak di bangunkan ibunya untuk berjama’ah di Musholah. Sakarang juga banyak anak-anak di waktu shubuh yang sudah siap siaga di Musholah, ketika Takmir sudah berdo’a sampai disisi berdo’a mendoakan kedua orang tua, 3 anak harus disuruh memimpin do’a, 3 anak tersebut memakai 3 bahasa dalam berdo’a yakni bahasa Arab, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Semua itu tergantung niat yang sudah di hatinya masing-masing. Anak-anak itu ibarat tanaman yang disiram terus dari awal ditanam dan apabila batangnya miring maka ayo diluruskan. ” Ucap Budi selaku pengurus Musholah Nurul Iman.
Harapan yang ingin di capai olaeh ketiga Ustadz tersebut adalah untuk target ke depan insya allah TPA ini akan dijadikan yayasan. Biar lebih berprogram dan formal. Misi untuk mencapai target yang penting adalah anak-anak bisa menerima, intinya anak-anak itu bisa nyaman, senang, dan yang paling penting mau mengaji. “Kita ingin menjadikan TPA ini menjadi sebuah pesantren agar bisa terbuka dengan mayoritas orang daerah sekeliling kita, kita sebagai pelanjut ombak dakwah rosulullah harus bisa memberikan sesuatu yang lebih baik buat agama kita. Makhsudnya dari lingkungan yang telah menjadikan kita seperti ini. Factor-faktor lingkungan daerah sekitar inilah yang akan mendukung adanya program seperti ini. Kalau tidak dari sekarang diarahkan nanti kedepannya akan jadi lain, apalagi perkembangan anak-anak di zaman sekarang yang sudah berjalan menuju arah yang negatif.” Ungkap Ustadz Imam Mahdi. (Adw)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar