Mahasiswa
UIN Sulap TPA Menjadi Sebuah Pesantren
Sebut
saja namanya Sahab, dia adalah Ustadz yang mengajar TPA di Musholah Nurul Iman
Gang Benteng Jemur Sari Wonocolo Surabaya. Tempat tinggal asal Kabupaten Tuban,
Dia adalah alumni mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2013, Fakultas
Syari’ah Jurusan AS (Ahwalus Syahsyiyah). Harapannya dia akan merubah TPA di
Musholah Nurul Iman itu menjadi sebuah pesantren. Sebuah niat yang
sungguh-sungguh dalam menegakkan dan meluruskan jalan yang terbaik yang akan dicapainya.
Masa-masa
yang berganti dari Ustadz satu ke Ustadz lainnya memberikan peluang bagi Ustadz
Sahab untuk mengajar TPA tersebut. Semua itu berawal dari teman dekat yang
mengajaknya untuk ikut membantu mengajar TPA di Musholah itu. Kebetulan
masyarakat Gang Benteng juga memerlukan seseorang untuk menjaga Musholah dan
setiap hari membersihkannya dengan gaji Rp 300 ribu per bulan. Lowongan itu
diambil oleh Ustadz Sahab yang kemudian tinggal di Musholah yang sudah
disediakan warga yakni dilantai atas sebagai tempat tinggalnya di Surabaya
semasa kuliah. Saat itu ustadz sahab masih berstatus kuliah di IAIN Sunan Ampel
semester 1 Tahun 2008.
Dari
waktu ke waktu tanpa adanya teman yang menemani mengajar TPA, dikarenakan teman
yang mengajaknya berhalangan dan pindah ke kampung halamannya, akhirnya di
Tahun 2013 ini dia mencari seseorang untuk membantunya mengajar TPA. Ustadz
yang dicari Ustadz Sahab itu adalah mahasiswa IAIN jurusan AS Fakultas Syari’ah
semester 3. Yakni Saiful Arif yang biasa di sapa dengan ustadz Arif dan Imam
Mahdi. Ustadz Sahab juga mengajaknya untuk tinggal bersamanya di kamar lantai
atas musholah tersebut.
Rutinitas
anak-anak yang dahulunya mengaji setelah sholat ashar berubah menjadi setelah
sholat maghrib. Mereka menganggap bahwa mengaji setelah sholat ashar itu kurang
efektif, jika setelah sholat maghrib
banyak anak-anak yang berkeliaran untuk bermain dan meninggalkan buku-buku
pelajaran di rumah yang harusnya dipelajari untuk sekolah besok. Maka dari itu
mereka bersosialisasi kepada masing-masing orang tua supaya anak-anak tidak
meninggalkan musholah setelah mengaji. Seperti yang dituturkan Ustadz Sahab
“Bagaimana agar anak-anak itu mau mengaji, pertama kita mengkoordinir dengan
cara membujuk masing-masing orang tua dari murid-murid tersebut untuk mendorong
atau menyuruh anaknya untuk tetap tinggal di mushollah dan mengikuti rutinitas
yang ada. Kedua dari anaknya dikasih siraman agama atau motivasi agar selalu
tertarik untuk pergi ke musholah.”
Setahun
ini metode pembelajaran semakin ditingkatkan oleh ketiga Ustadz tersebut. Yang
tadinya sistem pembalajarannya hanya membaca buku Iqro’ atau turutan, sekarang
sistemnya bertambah dengan hafalan-hafalan. Kalau yang masih dini membaca buku
Iqro’ dengan tambahan menghafal do’a sehari-hari dan juga hafalan surat pendek,
sedangkan yang sudah membaca Al-quran mendapat tambahan dengan mempelajari
hukum-hukum tajwid dan juga belajar tentang akhlak. Dalam menarik minat
anak-anak Ustadz mencoba untuk memberikan simpati kepada mereka dengan cara
hipnonis, istilah hipnotis dalam masalah pendidikan, terkait tidak boleh
membantah orang tua, untuk selalu menjaga akhlak, dan juga memberikan sebuah
motivasi agar anak-anak tersebut tidak melangkah ke dalam suatu kenakalan yang
seharusnya tidak di ajarkan pada anak-anak usia dini.
Dalam
setahun ini mereka juga menambah jadwal ngaji yakni setelah sholat shubuh dan
setelah sholat maghrib. 55 murid yang diajarnya tidak selalu aktif, tapi ada
juga anak-anak yang aktif yang selalu mengikuti sesuai jadwal yang sudah di
tentukan. Jadwal Mengaji TPA di laksanakan setian hari setelah sholat subuh dan
sholat dhuhur, kecuali malam Jumat. “Kalau
habis shubuh anak-anak tidak seberapa aktif, mungkin karena keadaan yang masih
nagntuk dan malas untuk bangun. Kecuali malam minggu, biasanya kalau malam
minggu anak-anak tidur di mushollah
semuanya. Kalau hari-hari biasa yang aktif Cuma 4 anak, kalau yang ngaji shubuh
6 anak. Ngajinya habis shubuh dan habis manghrib setiap hari kecuali malam
jumat. Kalau malam minggu muridnya banyak, sekitar 25 anak.” Kata Ustadz Sahab
saat di wawancarai setelah mengikuti sholat ashar berjama’ah di Musholah Nurul
Iman (15/12/13).
Hari
minggu adalah hari dimana anak-anak mempunyai banyak waktu untuk
bersenang-senang. Dalam kesenangan itulah ketiga Ustadz itu memanfaatkan hari
minggu sebagai hari bermain untuk anak-anak. Setelah ngaji sehabis sholat
shubuh ketiga ustadz itu mengajak anak- anak untuk olah raga, bernyanyi, main
tebak-tebakan dan latihan pencak silat.
“Mulai
Bulan Ramadhan kemarin kami mengadakan sistem pondok Ramadhan mulai pagi sampai
sore anak-anak berada di Musholah dan setelah tarawih tadarus bersama.” Tutur
Ustadz Sahab.
“Saya
salut dengan system pengajaran yang mendidik anak-anak semakin rajin untuk
belajar di Musholah ini. Waktu Bulan Ramadhan kemarin saya sempat mendengar
tangisan anak tetangga saya sewaktu sholat shubuh tidak di bangunkan ibunya
untuk berjama’ah di Musholah. Sakarang juga banyak anak-anak di waktu shubuh
yang sudah siap siaga di Musholah, ketika Takmir sudah berdo’a sampai disisi
berdo’a mendoakan kedua orang tua, 3 anak harus disuruh memimpin do’a, 3 anak
tersebut memakai 3 bahasa dalam berdo’a yakni bahasa Arab, bahasa Indonesia dan
bahasa Inggris. Semua itu tergantung niat yang sudah di hatinya masing-masing. Anak-anak
itu ibarat tanaman yang disiram terus dari awal ditanam dan apabila batangnya
miring maka ayo diluruskan. ” Ucap Budi selaku pengurus Musholah Nurul Iman.
Harapan
yang ingin di capai olaeh ketiga Ustadz tersebut adalah untuk target ke depan
insya allah TPA ini akan dijadikan yayasan. Biar lebih berprogram dan formal.
Misi untuk mencapai target yang penting adalah anak-anak bisa menerima, intinya
anak-anak itu bisa nyaman, senang, dan yang paling penting mau mengaji. “Kita
ingin menjadikan TPA ini menjadi sebuah pesantren agar bisa terbuka dengan
mayoritas orang daerah sekeliling kita, kita sebagai pelanjut ombak dakwah
rosulullah harus bisa memberikan sesuatu yang lebih baik buat agama kita. Makhsudnya
dari lingkungan yang telah menjadikan kita seperti ini. Factor-faktor lingkungan
daerah sekitar inilah yang akan mendukung adanya program seperti ini. Kalau
tidak dari sekarang diarahkan nanti kedepannya akan jadi lain, apalagi
perkembangan anak-anak di zaman sekarang yang sudah berjalan menuju arah yang
negatif.” Ungkap Ustadz Imam Mahdi. (Adw)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar