Sholatku, Cahaya Hidupku
Oleh
Yanie Al
Adawiyah
Malam ini, rembulan tampak redup,
bintang-bintang bersembunyi dibalik permadani biru. Awan hitam mengepul
menghiasi sunyi malam. Suara petir menggelegar dahsyat memecahkan keheningan. Tak berapa lama kemudian, tetesan air
langit terjun membasahi apapun. Angin malam berhembus kencang disertai hujan
badai yang menghantam. Dalam pertengahan malam, aku tak bisa tidur, aku melihat
sekelilingku. Gelap nan sunyi. Aku bangkit dari ranjangku melihat-lihat suasana
luar kontrakanku lewat jendela kaca kamarku. Tampak tetesan langit masih
menghujani atap kontrakanku. Ketakutan yang mengelilingi benakku membuat tangan
ini berjalan menuju lokasi Hp yang berada di meja dekat tempat tidurku.
Menghubungi beberapa teman yang mampu menemani kesendiriannku. Tapi tak satupun
teman yang membalas smsku, mungkin mereka
masih berada dalam ambang-ambang mimpi, menyerahkan jiwa mereka dalam
berkah tidurnya.
Di hadapan pasukan syair-syair adzan shubuh, membuatku
bangun dan berjalan menulusuri pintu-pintu kamar, bergegas mengambir air wudzu
dengan mengucapkan beberapa bacaan do’a yang siap ku lantunkan dengan suara
hatiku. Belajar istiqomah dalam menjalankan sholat tepat waktu adalah cukup
sulit bagiku. Dengan adanya kegiatan-kegiatan dan kemalasan yang sulit ku
tinggalkan ketika waktu adzan tiba, tak bisa ku urungkan untuk mendahulukan apa
yang seharusnya aku lakukan terlebih dahulu. Tapi semua itu bisa berakhir karna
suatu motivasi yang masuk ke telingaku dari seorang Ustadz.
Namanya Arif, 3 tahun lebih tua dariku. Tinggal di daerah
yang tak jauh dari kontrakanku. Saat itu aku terjebak hujan ketika aku sedang
berjalan ke arah kontrakan temanku yang tak jauh dari tempat dimana aku
berteduh, yakni di Musholah Nurul Iman. Ketika pemuda itu sedang membersihkan
lantai musholah yang basah karna air hujan, pemuda itu memanggilku untuk masuk
ke dalam musholah.
”Masuk saja dhek, biar tidak kehujanan.” ucapnya ketika dia
akan menaruh alat pembersih lantai di tiang Musholah dimana aku berdiri.
”Iya mas, terima kasih.” Jawabku lirih.
”5 menit lagi panggilan dari Allah untuk sholat ashar
berkumandang, jadi adhek bisa sekalian
berjama’ah di sini.” ucapnya lagi, dan aku hanya menganggukkan kepala untuk
menjawab apa yang di ucapkan pemuda itu.
Tak banyak yang berjama’ah saat itu, hanya terdapat anak-anak
laki-laki yang memenuhi barisan shaf depan laki-laki dan dua orang enek-nenek
yang memenuhi setengah barisan shaf depan perempuan. Mungkin karna cuaca yang
kurang maksimal, hingga banyak orang-orang berjama’ah sendiri dirumahnya. Usai
sholat berjama’ah aku mendengar salah satu anak laki-laki memanggil pemuda itu dengan sebutan ustadz,
ustadz Arif ketika anak laki-laki itu memanggil namanya. Dia adalah seorang guru ngaji TPA sekaligus
seorang Imam pengganti ketika sang takmir sedang berhalangan. Semua itu ku
ketahui ketika dia menghampiriku saat aku masih menunggu hujan berhenti.
”Tunggu saja dhek sampai hujan berhenti, memang
rencananya mau kemana? Maaf kalau banyak tanya, saya baru kali ini lihat kamu
berada di daerah sini.” ucapnya setelah habis merapikan papan batasan antara
jama’ah laki-laki dan perempuan.
”Iya mas, ini mau ke kontrakan teman saya yang ada di
sebelah jembatan situ. Tapi hujannya masih deras, saya juga tidak bawah
payung.” ucapku dengan melemparkan sebuah senyuman.
”Kebetulan rumah saya juga dekat dari sini, jadi saya
juga tidak bawah payung.” ucapnya dengan balasan sebuah senyuman.
”Saya kok merasa aneh melihat anak-anak yang giat untuk
berjama’ah di sini tadi, padahal hujannya juga cukup deras lho, apalagi ini
masih waktunya sholat ashar. Jarang-jarang lho ada anak kecil yang giat seperti
itu. Orang dewasanya pun tidak ada yang datang, ada nenek-nenek juga hanya
sebagian saja.”
”Semua itu karna sebuah motivasi yang saya berikan kepada
mereka, saya bilang bahwa Allah itu Maha pemberi segalanya, kalian mempunyai
sepasang kaki untuk berjalan saat melakukan aktifitas, mempunyai tangan untuk
berkreasi, mempunyai mata untuk memandang, mempunyai mulut untuk berbicara, itu
karna Allah yang memberi. Dia yang memberikan kesehatan untuk kalian, Dia yang
memberikan ilmu kepada kalian, Dia yang memberikan segalanya untuk kalian. Tapi
kenapa ketika kalian dipanggil untuk mengahampirinya, memujanya dan berdo’a
kepadanya kalian selalu mengulur-ulurkan waktu untuk menghadapnya. Padahal
ketika kalian meminta apapun Dia-Lah Tuhan yang selalu menuruti keinginanmu.” Tuturnya.
Seketika itu hatiku menangis, kenapa aku tidak pernah
memikirkan hal sepenting itu. Anak-anak kecil saja bisa, kenapa aku tidak? Aku
harus bisa merubah ketidakperhatiannku terhadap suatu kewajiban yang harusnya
aku taati, ucapku dalam hati. Perbincangan itu terus berlanjut hingga sebuah
perkenalan (Ta’aruf), mulai dari nama, tempat tinggal, dan status. Awal
sebuah perkenalan yang amat berarti bagiku. Saat itu hujan mulai sedikit reda,
dan aku berpamitan untuk melangkah kakiku pada tujuan utamaku.
”Allah itu Maha pemberi
segalanya, kalian mempunyai sepasang kaki untuk berjalan saat melakukan
aktifitas, mempunyai tangan untuk berkreasi, mempunyai mata untuk memandang,
mempunyai mulut untuk berbicara, itu karna Allah yang memberi. Dia yang
memberikan kesehatan untuk kalian, Dia yang memberikan ilmu kepada kalian, Dia
yang memberikan segalanya untuk kalian. Tapi kenapa ketika kalian dipanggil untuk
mengahampirinya, memujanya dan berdo’a kepadanya kalian selalu mengulur-ulurkan
waktu untuk menghadapnya. Padahal ketika kalian meminta apapun Dia-Lah Tuhan
yang selalu menuruti keinginanmu.”
Yaa...kata-kata itu terus ku ingat ketika pasukan
syair-syair adzan menyerang microfound masjid di Kota ini. Shubuh, Dhuhur,
Ashar, Maghrib, Isya’, sekarang menjadi tujuan utamaku sebelum aku melakukan
kegiatanku. Walaupun belum 100% maksimal, tapi aku sudah merasakan perubahan dalam
beberapa hari ini untuk menjalankan sholat tepat pada waktunya. Dan mulai
sekarang aku akan menjadikan sholatku sebagai cahaya hidupku. Cahaya yang
selalu menuntunku untuk menggerakkan kedua kakiku menuju suatu tempat dimana
aku harus menghadap sang Illahi ketilah syair-syair adzan berkumandang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar