Rabu, 08 Januari 2014

Surat 14, Juz 14, Tahun 2014



Surat 14, Juz 14, Tahun 2014
Tahun baru adalah hari peringatan yang biasa dilakukan masyarakat untuk memperingati datangnya tahun baru yang menggantikan tahun lama. Mereka telah melewati masa satu tahun dan akan memulai tahun yang baru. Perayaan tahun baru Masehi biasanya dirayakan sangat meriah bahkan ada yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekedar merayakan pergantian tahun. Tradisi yang dilakukan selalu rutin: meniup terompet dan menyalakan kembang api pada saat detik jarum jam tepat di angka 12 atau pada jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00”.
Orang akan merayakan tahun baru dengan pesta-pesta penuh suka cita, karena mereka berharap di tahun yang baru kita akan meniti hidup yang lebih baik. Banyak orang yang pergi meramal karena ingin mengetahui apakah tahun depan akan lebih bagus apa tidak? Semua orang berharap akan menjadi yang lebih baik dari tahun yang sebelumnya. Tahun baru, semangat baru. itulah yang harus kita tanamkan ke dalam diri, semoga dengan semangat yang baru kita dapat melalui hari-hari mendatang yang akan terasa lebih berat.
Sebuah harapan yang tak kalah tingginya dengan orang lain, sebuah target yang tak kalah suksesnya dengan orang lain membuatku lebih semangat untuk mulai aktifitasku di awal tahun 2014. Tujuan utamaku adalah mengunjungi makam Sunan Ampel, di situlah surat Al-Quran ke 14 dan juz 14 ku lantunkan untuk mengawali tahun 2014 ini. Aku ingin sebuah perbedaan menyerupai kehidupannku, membuatku bangga dan membuat orang lain ikut serta berpartisipasi dengan apa yang ku lakukan.
Mengapa ini menjadi tujuan utamaku?
Pertama           : Aku ingin mencari dan mendapatkan ridho dari Allah di awal tahun 2014.
Kedua             : Aku membaca bahwa terdapat suatu rahasia di balik surat Al-Quran ke 14 (Surat Ibrahim) yakni Sabar dan Bersyukur.
Syukur dan sabar adalah merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebagaimana kehidupan kita yang terkadang senang atau susah, lapang atau sempit, kaya atau miskin dan lain-lain. Hidup adalah ujian, maka atas kondisi apapun kita ada dalam ujian Allah swt. Pada saat kita mendapatkan kesenangan, kelapangan rizki, menjadi orang kaya ujiannya adalah pandai tidak kita bersyukur. Sedangkan pada suatu ketika kita mendapatkan kesusahan, kesempitan rizki, menjadi orang miskin ujiannya adalah mampu tidak kita bersikap sabar.
Kalau kita sadari banyak sekali nikmat yang telah Allah swt berikan kepada kita dan bahkan kalau mau dihitung sungguh tidak akan sanggup menghitungnya. Maka sungguh beruntung orang yang mampu bersyukur dan kasihan betul orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat Allah swt yang sangat banyak itu. Dalam ayat di atas ( Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7) Allah swt bahkan telah menjanjikan akan menambah nikmatnya bagi siapapun yang pandai bersyukur.
Hidup di dunia pada hakekatnya adalah ujian untuk meraih kesuksesan hidup dunia dan akherat. Sebagaimana ujian-ujian yang dilakukan bagi para pelajar pada hakekatnya ujian adalah untuk menaikkan derajatnya. Bahkan seseorang terkadang sengaja mengikuti ujian-ujian tertentu dalam rangka untuk mengetahui kemampuannya. Semakin tinggi derajat yang hendak diraih maka ujian yang dihadapi juga semakin sulit dan berat. Derajat keimanan akan semakin tinggi seiring keberhasilan seseorang dalam mengahadapi ujian atau cobaan yang Allah berikan kepadanya. Dalam hadits sahih Rasulullah bersabda, “Orang yang paling banyak mendapat cobaan adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, dan selanjutnya orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi dalam agama. Karena seseorang diberikan cobaan sesuai dengan kualitas agamanya. Jika agamanya teguh, maka ia mendapatkan tambahan cobaan.”
Ujian dengan demikian tidak perlu ditakuti. Ujian mesti dihadapi karena pada hakekatnya ujian adalah suatu kesempatan untuk mengetahui tingkat atau derajat kita. Ujian hidup manusia atas keimanannya juga tergantung pada derajat iman seseorang. Menurut Hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi bahwa iman itu terbagi 2 bagian, yaitu separo ada dalam syukur dan separo ada dalam sabar. Maka syukur dan sabar harus dipegang teguh karena merupakan tanda lulus tidaknya ujian keimanan seseorang.
Ketiga                         : Mengetahui karakter dari juz 14, yakni :
1.      Tidak suka keterbelakangan dan aktif mencari pencerahan (Ibrahim)
2.      Cenderung keras kepala (Al-Hijr)
3.      Memiliki obsesi bermanfaat bagi sesama dan pelindung keluarga (An-Nahl)
4.      Berpikir logis dan mengedepankan bukti (Al-Bayyinah)
5.      Tulus didalam membantu orang (Al-Ikhlas)
6.      Humanis dan memandang perbedaan dengan dimensi tauhid (Al-Hajj)
7.      Produktif (Al-An’am)
8.      Cenderung mengikuti aturan didalam bertugas (Ash-Shofat)
Semoga dari apa yang aku lakukan di awal Tahun ini bisa bermanfaat untuk kehidupannku, bisa menjadi seorang yang selalu bersyukur dan sabar seperti surat ke 14, dan menjadi karakter seperti juz 14. Aminnnnnnn.....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar