Surat 14, Juz
14, Tahun 2014
Tahun baru adalah hari
peringatan yang biasa dilakukan masyarakat untuk memperingati datangnya tahun
baru yang menggantikan tahun lama. Mereka telah
melewati masa satu tahun dan akan memulai tahun yang baru. Perayaan tahun baru
Masehi biasanya dirayakan sangat meriah bahkan ada
yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekedar merayakan
pergantian tahun. Tradisi yang dilakukan selalu rutin: meniup terompet dan
menyalakan kembang api pada saat detik jarum jam tepat di angka 12 atau pada
jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00”.
Orang akan merayakan tahun
baru dengan pesta-pesta penuh suka cita, karena mereka berharap di tahun yang
baru kita akan meniti hidup yang lebih baik. Banyak orang yang pergi meramal
karena ingin mengetahui apakah tahun depan akan lebih bagus apa tidak? Semua
orang berharap akan menjadi yang lebih baik dari tahun yang sebelumnya. Tahun baru, semangat baru. itulah
yang harus kita tanamkan ke dalam diri, semoga dengan semangat yang baru kita
dapat melalui hari-hari mendatang yang akan terasa lebih berat.
Sebuah harapan yang tak kalah
tingginya dengan orang lain, sebuah target yang tak kalah suksesnya dengan
orang lain membuatku lebih semangat untuk mulai aktifitasku di awal tahun 2014.
Tujuan utamaku adalah mengunjungi makam Sunan Ampel, di situlah surat Al-Quran
ke 14 dan juz 14 ku lantunkan untuk mengawali tahun 2014 ini. Aku ingin sebuah
perbedaan menyerupai kehidupannku, membuatku bangga dan membuat orang lain ikut
serta berpartisipasi dengan apa yang ku lakukan.
Mengapa ini menjadi tujuan utamaku?
Pertama :
Aku ingin mencari dan mendapatkan ridho dari Allah di awal tahun 2014.
Kedua : Aku membaca bahwa terdapat suatu
rahasia di balik surat Al-Quran ke 14 (Surat Ibrahim) yakni Sabar dan
Bersyukur.
Syukur dan sabar adalah
merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Sebagaimana kehidupan kita yang terkadang senang atau susah, lapang atau
sempit, kaya atau miskin dan lain-lain. Hidup adalah ujian, maka atas kondisi
apapun kita ada dalam ujian Allah swt. Pada saat kita mendapatkan kesenangan,
kelapangan rizki, menjadi orang kaya ujiannya adalah pandai tidak kita
bersyukur. Sedangkan pada suatu ketika kita mendapatkan kesusahan, kesempitan
rizki, menjadi orang miskin ujiannya adalah mampu tidak kita bersikap sabar.
Kalau kita sadari banyak
sekali nikmat yang telah Allah swt berikan kepada kita dan bahkan kalau mau
dihitung sungguh tidak akan sanggup menghitungnya. Maka sungguh beruntung orang
yang mampu bersyukur dan kasihan betul orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat
Allah swt yang sangat banyak itu. Dalam ayat di atas ( Al Qur’an surat Ibrahim
ayat 7) Allah swt bahkan telah menjanjikan akan menambah nikmatnya bagi
siapapun yang pandai bersyukur.
Hidup di dunia pada hakekatnya
adalah ujian untuk meraih kesuksesan hidup dunia dan akherat. Sebagaimana
ujian-ujian yang dilakukan bagi para pelajar pada hakekatnya ujian adalah untuk
menaikkan derajatnya. Bahkan seseorang terkadang sengaja mengikuti ujian-ujian tertentu
dalam rangka untuk mengetahui kemampuannya. Semakin tinggi derajat yang hendak
diraih maka ujian yang dihadapi juga semakin sulit dan berat. Derajat keimanan
akan semakin tinggi seiring keberhasilan seseorang dalam mengahadapi ujian atau
cobaan yang Allah berikan kepadanya. Dalam hadits sahih Rasulullah bersabda,
“Orang yang paling banyak mendapat cobaan adalah para nabi, kemudian
orang-orang shaleh, dan selanjutnya orang-orang yang memiliki derajat yang
tinggi dalam agama. Karena seseorang diberikan cobaan sesuai dengan kualitas
agamanya. Jika agamanya teguh, maka ia mendapatkan tambahan cobaan.”
Ujian dengan demikian tidak
perlu ditakuti. Ujian mesti dihadapi karena pada hakekatnya ujian adalah suatu
kesempatan untuk mengetahui tingkat atau derajat kita. Ujian hidup manusia atas
keimanannya juga tergantung pada derajat iman seseorang. Menurut Hadits Nabi
Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi bahwa iman itu terbagi 2 bagian,
yaitu separo ada dalam syukur dan separo ada dalam sabar. Maka syukur dan sabar
harus dipegang teguh karena merupakan tanda lulus tidaknya ujian keimanan
seseorang.
Ketiga :
Mengetahui karakter dari juz 14, yakni :
1.
Tidak suka keterbelakangan dan
aktif mencari pencerahan (Ibrahim)
2.
Cenderung keras kepala (Al-Hijr)
3.
Memiliki obsesi bermanfaat bagi
sesama dan pelindung keluarga (An-Nahl)
4.
Berpikir logis dan mengedepankan
bukti (Al-Bayyinah)
5.
Tulus didalam membantu orang
(Al-Ikhlas)
6.
Humanis dan memandang perbedaan
dengan dimensi tauhid (Al-Hajj)
7.
Produktif (Al-An’am)
8.
Cenderung mengikuti aturan didalam
bertugas (Ash-Shofat)
Semoga dari apa yang aku
lakukan di awal Tahun ini bisa bermanfaat untuk kehidupannku, bisa menjadi
seorang yang selalu bersyukur dan sabar seperti surat ke 14, dan menjadi
karakter seperti juz 14. Aminnnnnnn.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar